• gambar
  • gambar

Selamat Datang di Website SMK AL-ISLAM DAUD KHOLIFATULLOH. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMK AL-ISLAM DAUD KHOLIFATULLOH

NPSN : 69965799

Nguntoronadi Magetan Jawa Timur


[email protected]

TLP : 085 335 668 000


          

Prestasi Siswa


Juara OSN 2016

Profesor Toshiko Kinosita mengemukakan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya karena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pen...



:: Selengkapnya

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 39957
Pengunjung : 16555
Hari ini : 7
Hits hari ini : 73
Member Online : 1
IP : 216.73.216.151
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

Tanpa Literasi, Generasi Emas Bisa Bikin Cemas




TANGGAL 23 April diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Di berbagai tempat, kita menyaksikan unggahan media sosial bertagar #WorldBookDay, diskon buku di toko daring, hingga webinar bertema cinta membaca. Namun, di balik euforia tahunan ini, ada keheningan yang menyayat. Di tengah perayaan simbolik ini, kita justru bertanya-tanya: apakah buku benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat kita? Apakah literasi telah menjadi budaya mengakar? Pertanyaan itu bukan sekadar retoris. Ia adalah cermin dari kenyataan pahit yang terus berulang.
Survei Programme for International Student Assessment (PISA) oleh OECD menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara anggota. Bahkan, dalam laporan terakhir, Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara yang disurvei. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah gambaran masa depan yang mengkhawatirkan.

Literasi yang rendah bukan sekadar soal minat membaca yang lesu, melainkan soal ketidakmampuan memahami, menganalisis, dan mengambil keputusan dari informasi yang tersedia. Akibatnya, kita menyaksikan ironi mencolok: jutaan sarjana lulus setiap tahun, tetapi angka pengangguran tetap tinggi. Bukan karena mereka malas atau bodoh, tetapi karena sistem pendidikan yang belum mampu membentuk manusia yang literat secara utuh. Sarjana banyak, tapi pengangguran terdidik lebih banyak

Kita bermimpi bahwa pada saat itu, Indonesia akan menjadi negara maju, pemimpin di Asia, bahkan kekuatan ekonomi dunia. Namun, mungkinkah mimpi itu tercapai bila literasi terus terpuruk? Negara-negara maju yang kita kagumi hari ini, tidak lepas dari budaya literasi yang kuat. Finlandia, misalnya, sejak awal telah menanamkan cinta membaca dalam sistem pendidikannya. Anak-anak di sana tidak dituntut membaca sejak usia dini, tetapi dikelilingi oleh buku dan didorong oleh guru-guru yang memahami psikologi belajar. Hasilnya? Anak-anak Finlandia tumbuh sebagai pembaca kritis dan kreatif. Tak heran negara ini konsisten berada di jajaran atas peringkat PISA
Atau Korea Selatan, negara yang pernah porak-poranda oleh perang, tetapi bangkit menjadi kekuatan ekonomi berkat investasi besar-besaran dalam pendidikan dan literasi. Pemerintahnya bahkan menetapkan book-reading campaigns nasional dan mendanai ribuan perpustakaan komunitas.



Share This Post To :




Kembali ke Atas


Berita Lainnya :





   Kembali ke Atas